ketika aku memikirkan engkau dalam bening embun pagi.
Kunanti bagai mentari menyongsong hari,
menguak fajar yang masih enggan berganti.
Dalam segenap pilu,
kuucap namamu hingga tak bertepi.
Aku tahu aku tak bisa memberimu hidup
Tapi aku bisa, dan akan selalu memberi semangat.
23:37
Mata ini tak sanggup terpejam.
Tak henti aku membisikkan namamu dari senyumku yang samar.
Tak henti aku menerka-nerka,siapa kiranya mentari yang memberimu kehangatan,
Dalam dingin malam dan kabut yang pekat.
Malam memang selalu gelap.
Tapi malam ini kubawakan cahaya dari ruang kalbuku
Mungkin tak sebenderang mentari
Tapi tak akan redup karena malam..
Mungkin tak sebenderang mentari
Tapi tak akan redup karena malam..
Maka,jika kiranya aku bukan mentari,
Izinkan aku menjadi bulan.
Yang memayungi kemanapun langkahmu melangkah.Tatkala gelap mentari setelah berpamit senja..
Maka,
Izinkan aku menjadi hujan.
Yang selalu menititipkan pelangi.
Tatkala mentari tertutup gelap awan..
Setetes embun kebahagiaan atasmu.
Laksana lautan harapku untuk selalu membuat mu tersenyum
Kini aku merindukanmu.
Dan tak ada yang dapat menjelaskan mengapa rindu ini tertanam sangat dalam.
Maka izinkanlah aku merajut waktu,
Meniti secercah cahaya atau seindah peragai warna
Untuk dirimu yang ku inginkan
Untuk dirimu yang ku inginkan
Untuk bahagiamu yang ku citakan..
0 komentar:
Posting Komentar