Baru saja, tanah menguapkan embun yang tersimpan dalam jemarinya. pagi belum lagi tiba, dan mentari belum turun dari layarnya. Kulihat engkau manusia, telah menanam rumput di barisan pagar-pagar takdir yang menua. Lantas dimana aku berada? di tengah bintang pun aku tak diperkenan, untuk berbicara. Namun bilamana kusampaikan pada do'a, tiada yang hendak mengantarnya. Meski hanya sampai tepian, dari jurang-jurang hidup yang terjal dan tak berdasar.
Kuteriakkan sesekali keluhku, berbalas riak dari angin yang bersenandung rindu. Tiada keinginan yang mengalir, menyusuri lembah dan celah pertemuanku denganmu. Masih hijau kelopak matamu, ketika kukecup dan kuusap dengan sayap kupu-kupu. Menari, bernyanyi, meski sendiri.
Tak inginkah kau berada di tengah gemerlap hujan? tak maukah kau menemaniku hingga ragaku reruntuhan? mungkin biar memang begini, biar kusingkap jelas pesisir pantai yang mendeburkan emas untuk membangun istana pasirmu. Lekas jadikan aku tiang yang kokoh, untuk melindungi rumahmu. Untuk menahan segala beban di bahumu, semoga kelak bahagia menjadi nasibmu....










