Tiba-tiba aku ingin menulis lagi.. Menumpahkan gerimis penuh yang menyabit dalam purnama ceritaku..
Terbalut diam, ketika engkau mendekat. Meningalkan senyum yang mengembang, dibalik bibirku yang pilu. Ada yang takkan pernah terganti. Namamu, juga damai ini. Namun biarlah kebahagiaan menjadi warna, yang melukis ingatan agar tak pernah terhapus...
Jika engkau bersedih nanti, maaf bila aku tak ada di sisi. Mungkin separuh asaku telah mati, tak sanggup hadir dan menghapus genangan di pipi.Aku bukanlah sesiapa,hanya seseorang yg bersedih tatkala melihat bulir itu menganak sungai di kedua pipimu..Tapi percayalah, bintangku tiada bekelip. Bila ketidakadaan kelak membuat kita mengerti, bahwa hidup takkan abadi. Selalu ada waktu untuk mencintai, dan merelakannya pergi..
Seperti itu aku memandangmu, yang mungkin tak bisa lagi kunyatakan detik ini. Saat yang kubisa hanya berbaring, menunggu harap dan jalan yang kian menandus. Hanya itu mimpi untukku, hari demi hari..
Biarlah engkau membasahi layaknya embun, kemudian berita tentang bahagiamu kubaca samar..

0 komentar:
Posting Komentar