Rabu, 28 Maret 2012

Kujalani Kasih

Kujalani di jalan setapak hatimu
hasratku adalah sungai sepanjang pengembaraan berliku
mengalir bersama arus kerinduan dan doa
sampai muara; laut atas namamu
bahagia aku di keluasan cintamu. Sangat bahagia
dalam sajak yang kubacakan berkali-kali
di hatimu segala menjadi prasasti
segala kata terpahat abadi.
Kususuri pantai hingga jejak kakimu
aku menunggu. Hingga kaugulung ombak ke dalam kalbu
menyertakan kelepak merpati yang membawa surat-suratmu
alangkah indahnya tulisan tanganmu
kaulukis senja di lengkung langit, kaubawa malam kepadaku
kaunyalakan bintang-bintang dengan api cinta
dengan apa kubalas hembusan angin laut
bukankah aku telah berlayar di kedalaman semestamu.

Senin, 26 Maret 2012

Song of the Night Rainbow..


Nyanyikan lagi, pelangi malamku.
Nada yang dulu tak sengaja kau tinggalkan.
Aku mendengarmu dengan sungguh,
dengan diam yang mengisyaratkan seribu kasih.
Temani dzikirku yang terlirih, kunikmati alur air mataku.
Andai bisa kau siratkan walau setitik, mengusap rambutku penuh cinta.
Nyanyikanlah lagi, pelangi malamku,
sebelum kaulupakan senandungku.
Sebelum kau terlupa bagaimana suara-suara itu memanggil namamu,
meski tak lebih dari sekedar membisu.

Salahkah aku pelangi malamku?
Salahkah bilamana aku mendambamu?
Salahkah bila kutasbihkan debu-debu ini menjadi rindu yang kian memburamkan bola mataku?
Sedang takdir kecilku enggan meninggalkan pintu hatimu.
Izinkan aku menemanimu sebentar lagi, sebelum malam ini berhenti. Sebelum embun menggantikanku,
kemudian diam-diam menyelinap.

Maka nyanyikanlah lagi, pelangi malamku.
Lagu yang selalu engkau gumamkan.
Biar jadi penawar sepi dan gundahku,
selama itu ku mendambamu.
Kan kurekam segalanya menjadi biru yang tumbuh dalam mekarnya,
Sampaikan salamku pada perhentianmu..

Minggu, 18 Maret 2012

Sketsa Hati dalam Secangkir Senja

Awan tipis tersapu angin,
seakan rindu terlepas
meninggalkan kenangan pada tubuhmu, 
kurasakan udara
yang ditinggalkan hujan.
Mentari di celah jendela
kaukah yang membawanya.
Deras sinarnya
seperti darah menghanyutkan degup rindu
di muara jantungku.
Senampan senja kausuguhkan,
lentik jemarimu indah
tatap matamu tak sanggup kugubah,
jejakmu melunglai indah
dalam hangat yang terperangkap racikan daunan teh
seputik melati menepi di pinggir cangkir
menyengatkan wangi di bibir.
Dan senyummu
kuhirup tanpa akhir.
Cinta bergetar di tengah Maret
lengkung alis matamu memayungi senja hujan
aku menghangatkan diri di matamu
pada sinarmatamu  yang anggun,
pada sunyi yang unggun
pada sketsa hatimu yang mengambang
di secangkir senja yang rembang..

Minggu, 11 Maret 2012

Good Night..

Sunyi berdenting di telinga, menggetarkan harmoni malam bersama kebekuannya yang pasti. Aku disini, menunggu bintang menjemputmu dan mengantarkannya padaku, malam ini. Hujan turun, kabut di sudut jalan urung menipis. Rintik embun yang menempias tak kuurai menjadi debu, kuusap perlahan agar kenangan tak berjatuhan. Tanya ini masih ada, namun entah siapa..

kuayunkan detak jantung, menembus nyawa, membelah langit. Kusingkirkan awan-awan, kelabu meranggas. Pelangi hitam di ujung zaman kian memudar, senyum getir ini masih belum bertuan. Sedetik lagi waktu melesat, maut semakin jelas terlihat. kapan?

Kembali kuhadiahkan sebentuk asa pada hening malam. Kubuka tirai hatiku selebar angan, lalu kusemai benih kasih yang telah mati oleh gelisah. Kembalilah, itu pintaku yang entah untuk apa, atau untuk siapa. Kutimpakan balut rindu ini pada kesepian, di sudut temaram aku semakin sendirian..

Kemudian engkau datang dengan setangkai bunga keabadian. Kau tanam dalam relung kepastian, kemudian membiarkannya menciumi damai yang berguguran. Engkau hadir, sejenak saja, namun itu telah cukup. Untuk membuatku tersenyum, membebaskan cinta yang terpasung, dan kembali ke peraduan.

Selamat malam, Pelangiku...

Kamis, 08 Maret 2012

Gerimis dan Wajah Manis

Seuntai angin di rambut mayangmu, jatuh terurai,
tatapanmu menyelinap geulis di antara garis-garis rambutmu, 
bak sinar matahari di celah gerimis, 
sebuah teralis yang akan menahanku berlama-lama memandangmu, 
sebab biasanya akan muncul pelangi menuruni pematang di hatimu, 
rindang dedaunan menyembunyikan reranting sunyi yang diamdiam ditumbuhi anggrek ungu, 
itulah sebab aku suka sekali memandangmu.
Gerimis membimbingku ke dekap tubuhmu. Aku menatapmu. 
Wajahmu lalu manis sekali, tak ada perempuan semanis kamu, sungguh. 
Entah sketsa apa yang kutulis, rasanya aku cuma melukis gerimis yang menetes di alis matamu. 
Dan aku, hanyalah seorang yang terdiam terhanyut jatuh di kelopak matamu, 
lalu ketika kaukerjapkan mata, 
aku terbatabata dalam serangkaian kata cinta,
itulah sebab aku suka sekali memandangmu.
Wajah yang  manis, tahukah rasanya menjadi hujan. 
Mengapa gerimis memilih jadi tetes tebu, penuh kenangan manis di setiap celahnya. 
Di kehijauan lembah, di antara pagi dan senja, di antara pertemuan yang tak terbilang jumlahnya. 
Karena itukah pelangi turut hadir pada senyummu yang indah. 
Kau hanya menjawab dengan tatapan manis, mata gerimis,
itulah sebab aku suka sekali memandangmu.
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates