Awan tipis tersapu angin,
seakan rindu terlepas
meninggalkan kenangan pada tubuhmu,
seakan rindu terlepas
meninggalkan kenangan pada tubuhmu,
kurasakan udara
yang ditinggalkan hujan.
Mentari di celah jendela
kaukah yang membawanya.
Deras sinarnya
seperti darah menghanyutkan degup rindu
di muara jantungku.
Senampan senja kausuguhkan,
lentik jemarimu indah
tatap matamu tak sanggup kugubah,
jejakmu melunglai indah
dalam hangat yang terperangkap racikan daunan teh
seputik melati menepi di pinggir cangkir
menyengatkan wangi di bibir.
Dan senyummu
kuhirup tanpa akhir.
Cinta bergetar di tengah Maret
lengkung alis matamu memayungi senja hujan
aku menghangatkan diri di matamu
pada sinarmatamu yang anggun,
pada sunyi yang unggun
pada sketsa hatimu yang mengambang
di secangkir senja yang rembang..
yang ditinggalkan hujan.
Mentari di celah jendela
kaukah yang membawanya.
Deras sinarnya
seperti darah menghanyutkan degup rindu
di muara jantungku.
Senampan senja kausuguhkan,
lentik jemarimu indah
tatap matamu tak sanggup kugubah,
jejakmu melunglai indah
dalam hangat yang terperangkap racikan daunan teh
seputik melati menepi di pinggir cangkir
menyengatkan wangi di bibir.
Dan senyummu
kuhirup tanpa akhir.
Cinta bergetar di tengah Maret
lengkung alis matamu memayungi senja hujan
aku menghangatkan diri di matamu
pada sinarmatamu yang anggun,
pada sunyi yang unggun
pada sketsa hatimu yang mengambang
di secangkir senja yang rembang..

0 komentar:
Posting Komentar