Seuntai angin di rambut mayangmu, jatuh terurai,
tatapanmu menyelinap geulis di antara garis-garis rambutmu,
bak sinar matahari di celah gerimis,
sebuah teralis yang akan menahanku berlama-lama memandangmu,
sebab biasanya akan muncul pelangi menuruni pematang di hatimu,
rindang dedaunan menyembunyikan reranting sunyi yang diamdiam ditumbuhi anggrek ungu,
itulah sebab aku suka sekali memandangmu.
Gerimis membimbingku ke dekap tubuhmu. Aku menatapmu.
Wajahmu lalu manis sekali, tak ada perempuan semanis kamu, sungguh.
Entah sketsa apa yang kutulis, rasanya aku cuma melukis gerimis yang menetes di alis matamu.
Dan aku, hanyalah seorang yang terdiam terhanyut jatuh di kelopak matamu,
lalu ketika kaukerjapkan mata,
aku terbatabata dalam serangkaian kata cinta,
itulah sebab aku suka sekali memandangmu.
Wajah yang manis, tahukah rasanya menjadi hujan.
Mengapa gerimis memilih jadi tetes tebu, penuh kenangan manis di setiap celahnya.
Di kehijauan lembah, di antara pagi dan senja, di antara pertemuan yang tak terbilang jumlahnya.
Karena itukah pelangi turut hadir pada senyummu yang indah.
Kau hanya menjawab dengan tatapan manis, mata gerimis,
itulah sebab aku suka sekali memandangmu.

0 komentar:
Posting Komentar