kuayunkan detak jantung, menembus nyawa, membelah langit. Kusingkirkan awan-awan, kelabu meranggas. Pelangi hitam di ujung zaman kian memudar, senyum getir ini masih belum bertuan. Sedetik lagi waktu melesat, maut semakin jelas terlihat. kapan?
Kembali kuhadiahkan sebentuk asa pada hening malam. Kubuka tirai hatiku selebar angan, lalu kusemai benih kasih yang telah mati oleh gelisah. Kembalilah, itu pintaku yang entah untuk apa, atau untuk siapa. Kutimpakan balut rindu ini pada kesepian, di sudut temaram aku semakin sendirian..
Kemudian engkau datang dengan setangkai bunga keabadian. Kau tanam dalam relung kepastian, kemudian membiarkannya menciumi damai yang berguguran. Engkau hadir, sejenak saja, namun itu telah cukup. Untuk membuatku tersenyum, membebaskan cinta yang terpasung, dan kembali ke peraduan.
Selamat malam, Pelangiku...

0 komentar:
Posting Komentar