Juni di rambutmu masih basah,
masih menyimpan tetes dan rerumputan yang ditinggalkan hujan.
Dan setiap kutatap matamu lewat panorama di jendela,
aku menemukan lembah nan hijau, puspa warna, kicau lagu mementing piano di pucuk-pucuk cemara, dan luruh gerimis.
Kulihat seikat pelangi tumbuh di bola matamu.
Dan hujan
menyembunyikan
semua jejak.
Kuberteduh menatapmu
memperhatikan bulir hujan
menetes ke dalam puisi..
Aku
terhanyut
bersama kesunyian
yang diselundupkan hujan
yang dibiarkan mengambang
dalam genangan
ilusi.
Dan hujan meninggalkan
hening
semua denting. Bening matamu selalu kuingat
ia adalah kolam sajak
seluruh kata yang menyembul
dalam bahasa hatiku..

0 komentar:
Posting Komentar